Kemarin, aku makan di sebuah warung makan. Ramai pengunjung.
Mereka tak kehabisan makanan. Mereka juga tak pernah kehabisan pengunjung. Warung
makan yang buka pukul 7 pagi dan tutup jam 6 sore ini menyediakan beragam
makanan. Aku suka semua makanan yang ada di sana, tapi hanya beberapa saja yang
sering ku makan. Aku terlalu memikirkan kantong dompetku, setidaknya membantu
agar aku tak makan terlalu banyak.
Kemarin, sekitar pukul 3 sore, aku dan temanku makan di
warung itu. Seperti biasa, sarapan kami selalu lebih lambat dari orang-orang. Entahlah,
mungkin kami tidak menyukai hal yang berbau mainstream (?) hahaha.. Aku duduk
selalu membelakangi cahaya. Seperti biasa, setelah mengambil menu makanan dan
membayar, aku duduk lebih dulu dibanding temanku. Seperti biasa, kami selalu
minum ‘es teh’ setiap kali makan di sana.
Semua berjalan seperti biasa, temanku masih sama lambatnya
makan daripada aku. Seperi biasa, aku selalu berdo’a sebelum menyantap
makananku. Dan seperti biasa, kami selalu melihat ragam tingkah orang-orang
yang makan di warung itu. Dan aku tentunya, sedikit merasa lucu melihat setiap
tingkah mereka. Tapi, kemarin adalah hal yang banyak membuatku terdiam setelah
melihat tingkah masing-masing pengunjung yang beragam. Menarik kataku.
Ada dua pria di ujung sana, mereka tampan dan berbadan
bagus. Mereka terlihat seperti pasangan. Ada yang selalu berbicara, dengan
tangan sedikit gemulai. Tapi, dia berwajah tampan. Oh mungkinkah sekarang pria
tampan lebih banyak berpasangan dengan pria tampan pula? Dan di depanku ada
seorang wanita dengan nasi merah, jus, laptop di depan nya. Mungkin ia sedang
diet, atau agar piring terlihat lebih menarik? Dia terlihat aneh. Entahlah, aku
tidak menghiraukan dia terlalu banyak. Aku juga merasa terganggu dengan
percakapan beberapa pria dan wanita di belakangku. Segerombolan tidak penting,
kataku.
Aku sudah menghabiskan makanan lebih dulu, seperti biasa. Kemudian
aku menyelesaikan bacaanku, sambil mendengarkan beberapa percakapan dari orang
di sekitarku. Hari itu, adalah hari yang tidak pernah aku suka. Aku masih
mengerti jika seorang pria menjadi gay. Aku hanya tidak menyukai pria yang
berdandan seperti wanita. Mereka boleh gemulai, mereka juga boleh berlagak
seperti wanita, tidak masalah jika sifat mereka seperti wanita. Tapi, jika
sudah berdandan memaksakan diri untuk menjadi seorang wanita aku tidak suka. Dengan
dandanan serba menor, dengan baju serba glamor, dengan beberapa alat musik dan
suara yang tidak enak di dengar. Ya, pengamen banci itu membuat mood ku
berantakan. Mungkin aku bukan hanya tidak suka, bahkan menjadi takut.
Sepertinya kami harus menyudahi waktu makan kami di warung
itu. Kami pulang, dan aku masih gemetaran, masih memikirkan beberapa orang yang
kulihat hari ini. Semoga tidak nanti lagi.
0 komentar:
Posting Komentar